GAMBARAN KESEHATAN JIWA PADA JEMAAH HAJI Laporan Riset Kesehatan Jiwa Jemaah Haji tahun 1440 H 2019 M

Wed, 31/07/2019 20:44:25   | Dilihat : 197   Penulis : Pusat Kesehatan Haji

PENGANTAR : Untuk  mencapai  Istitaah Kesehatan yang ideal seperti definisi yang di kemukakan oleh WHO tentang sehat yaitu sehat fisik dan sehat mental / jiwa maka pengelola program kesehatan haji diwajibkan melakukan deteksi demensia bahkan gangguan jiwa, karena kedua penyakit tersebut sebenarnya tersembunyi (silence) diantara populasi jemaah haji yang rata-rata berada pada populasi dengan Kategori Usila dan atau Kategori menderita penyakit haji seperti Hypertensi, DM, Jantung, dan Paru. Jemaah Haji Yang dirawat Inap di KKHI (Ruang Psikiatri) selama musim haji 2018/1439 sebanyak 64 orang (Laki-laki 64, Perempuan 0) dengan diagnosa terbanyak demensia (64%).Tingginya angka ini sebenarnya adalah fenomena gunung es ( ice berg fenomena ) oleh karenanya  harus dilakukan deteksi dini sejak jemaah mendaftar akan berhaji dan segera dilakukan pembinan kesehatannya agar jumlahnya dapat diminimalisisr pada masa keberangkatan.


Sumber : Siskohatkes 2018

Tujuan riset ini untuk mengetahui prevalensi gangguan kesehatan jiwa pada jemaah haji yang akan berangkat ke tanah suci pada tahun 2019, di samping itu memberikan gambaran bagi pemegang program kesehatan haji pada khususnya untuk mengetahui cara screening dan pembinaan pada jemaah haji yang terdeteksi berpotensi mengalami masalah kesehatan jwa. Adapun lokasi pengambilan sampel pada daerah atau lokasi yang dilakukan sosialisasi istitaah kesehatan haji sejak bulan Februari sampai Maret 2019. 

Sampel pada riset ini terkumpul sebanyak 874 kuestioner yang diambil secara random dari 10 Kabupaten/Kota, selanjutnya dilakukan pembersihan data sehingga jumlahnya menjadi 447 (sampel dimensia) 313 untuk SRQ. Setiap “nilai” pada sampel mewakili satu orang untuk jawaban yang benar untuk test HVLT, sedangkan untuk test SRQ setiap jawaban ya / tidak akan memberikan informasi dugaan jenis gangguan kesehatan jiwa. (pedoman teknis pemeriksaan dan pembinaan kesehatan haji).



Analisa data dibagi tiga kelompok terpisah : HVLT dan SRQ / Mini ICDX.HVLT  (kelompok demensia), SRQ a (kelompok psikologis ansietas dan depresi) SRQ b (kelompok psikosis). Untuk analisa data yaitu dengan menghitung frekwensi terbanyak dari masing-masing variabel dan  dilanjutkan dengan Cross Tabulation pada setiap kelompok cluster.


Hasil riset  kesehatan jiwa ini menunjukkan bahwa ada 176 orang jemaah (20.13%) berisiko kesehatan jiwa dengan rincian : Risiko demensia adalah : 161/874 (18 orang demensia dalam 100 orang), untuk 210.000 jemaah akan ada 3.780 jemaah dengan risiko demensia sedangkan risiko psikosis adalah : 15/874 (1.7 orang psikosis dalam 100 orang) jika ada 210.000 jemaah akan ada 210 jemaah dengan risiko psikosis. Bila di lihat berdasarkan variabel jenis kelamin dan umur, Prevalensi depressi pada perempuan 2 kali lebih banyak dibanding laki-laki yaitu pada kelompok umur 40-60 tahun dan prevalensi psikosis lebih banyak pada laki-laki dibanding perempuan pada kelompok umur diatas 60 tahun dibanding umur lainnya.

Rekomendasi hasil riset ini adalah Puskesmas segera melakukan skreening kesehatan jiwa lebih awal (instrumen Permenkes no 15 tahun 2015) pada jemaah haji yang baru mendaftar, dan dilanjutkan dengan pembinaan keswa secara terencana dan terukur. Peningkatan Kapasitas pemeriksa kesehatan jiwa di Puskesmas penyelenggara kesehatan haji. Memperkuat Jejaring (net working) dan koordinasi dengan lintas program di Dinkes Kab / Kota (Haji, Kesjaor dan Keswa ) dalam pembinaan kesehatan jemaah haji. Membuat pedoman pembinaan penyuluhan spesifik dan holistik untuk jemaah haji dengan gangguan Kesehatan Jiwa untuk Kabupaten / Kota.

Pusat Kesehatan Haji, Direktorat Kesehatan Jiwa terus mendorong dan memperkuat daerah dalam rangka pembimbingan dan pengendalian faktor risiko kesehatan jiwa di bantu oleh Kementerian Agama dalam mendakwahkan Kesehatan Jiwa / mental bagi jemaah haji. (Abdul Hafiz, SKM, M.Kes, Special Thanks untuk Dr. dr. Fidiansjah yang telah memberikan kontribusi)