Jabal Nur yang menawan Jemaah Haji

Tue, 30/07/2019 03:32:02   | Dilihat : 140   Penulis : Pusat Kesehatan Haji

Oleh A. HAfiz, Puskeshaji

Betapa Indahnya Jabal Nur dipandang dari kejauhan banyak jemaah haji yang mencoba untuk naik ke sana setiap tahunnya Dari buku Tarikh Islam  kita baca bahwa gunung ini terletak di Kota Mekkah Al-Mukarramah dan salah satu gunung saksi sejarah turunnya wahyu pertama, para pencinta rasul tidak bisa membayangkan bagaimana Rasulullah SAW yang saat itu sedang bertahannus di dalam gua Hira' dan didatangi Malaikat Jibril AS seraya memerintahkan untuk mengucapkan Iqra' namun dengan rasa gemetar dan takut  dari mulutnya yang mulia beliau menjawab maana biqori' saya tidak bisa baca sembari Jibril AS memeluknya erat-erat sehingga beliau pada saat itu merasa sesak dan singkat cerita saking takutnya beliau meninggalkan Jibril AS berlari dari goa yang ada di gunung itu menuju rumahnya. Sesampainya dirumah beliau minta diselimutkan oleh istrinya yang mulia Siti Khadijah agar rasa takutnya hilang, Baginda melihat Jibril AS mengembangkan sayapnya masyaallah seluas mata memandang alam ini hanya dipenuhi oleh wujud Jibril A.S, begitulah sekilas sejarah turunnya wahyu pertama. Berbeda dengan gunung atau jabal lainnya seperti jabal Tsur, jabal Uhud dan jabal Magnet yang ada di Madinah penampakannya lebih landai dibandingkan dengan jabal Nur yang kita lihat.

Trend Wafat JH Indonesia 2016 - 2019Seketika saya terjaga dari lamunan saya dan tertarik dengan pola kematian jemaah haji di tanah suci yang telah saya interpretasikan dalam bentuk grafik trend garis dan telah saya monitor lebih dari 15 tahun terakhir, sampai minggu ketiga operasional haji tahun 2019 saya mencoba lagi mendeskripsikanya untuk tiga tahun terakhir ini, ternyata dalam kondisi normal polanya sama saja yaitu menyerupai lonceng dengan puncaknya pada kisaran diantara hari H-5 (Arafah) sampai hari tasyrik H+7 hanya tingkat kelancipannya / kelandaiannya saja yang berbeda beda setiap tahunnya, ditemukan juga jika angka kematian pada selang interval itu pada tahun pengamatan lebih tinggi dibanding dengan tahun lainnya, maka total jumlah jemaah yang wafat tahun itu pasti lebih tinggi dibanding dengan tahun lainnya.

Dapat dilihat pada grafik, jumlah jemaah yang wafat per hari pada tahun 2019 sampai hari ke 23 angkanya masih lebih rendah dibanding tiga tahun sebelumnya namun jangan terlena karena polanya tidak akan jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, dan sepertinya pola itu tidak mungkin untuk dihindari dimana akan ada trend meningkat mencapai puncaknya dan akhirnya akan turun kembali. Faktor yang berkaitan dengan rendah atau tingginya puncak grafik ini diduga berasal dari internal jemaah seperti perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan external jemaah seperti petugas, sarana dan prasarana.

Demikian pula kebijakan pelayanan dan perlindungan bagi jemaah haji yang seringkali berbeda-beda setiap tahunnya karena tergantung situasinya, apakah ini ada pengaruhnya pada angka kematian jemaah haji? Ternyata jika total angka kematian pada hari-hari tasyrik ini lebih tinggi dibandingkan dengan hari pra dan pasca ibadah haji akan menjadi indikasi bahwa jumlah total jemaah haji yang wafat pada tahun ini pun akan lebih banyak dibanding tahun sebelum atau sesudahnya, sebenarnya jika pelayanan dan perlindungan pada jemaaah haji di semua lini pelayanan dapat dilaksanakan secara maksimal sehingga tercapai kondisi yang optimal maka jumlah jemaah haji yang wafat di prediksikan pada tahun ini akan lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya (nilai standar <2 permill), sebaliknya jika upaya pelayanan dan perlindungan yang diberikan kepada jemaah menurun alias kendor pada priode tersebut maka dapat dipastikan jumlah total jemaah haji yang wafat pada tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya (nilai standar >2 permill).

Memang sampai saat ini belum banyak data dukung yang dapat dijadikan Referensi untuk menjelaskan fenomena itu lebih lanjut (perlu dilakukan riset lanjut terkait intervensi H-5). Sehingga untuk saat ini nalar yang dapat  dipakai untuk menjelaskan keadaan itu adalah adanya keterlibatan faktor pemungkin (enabling faktor) yang diduga kuat menyebabkan pelayanan menjadi kendor diantaranya adalah faktor fatique (kelelahan) yang merupakan komposit variabel yang telah mendera seluruh jemaah dan petugas haji baik sebelum maupun sesudah Armuna. Sebelum Armuna akibat diloskannya / jemaah memporsir tenaganya melakukan aktifitas berlebihan diluar pondokan sehingga jemaah banyak yang sakit bahkan muncul penyakit yang sebelum nya tidak ada menjadi ada atau kambuh (eksaserbasi)  karena aktifitas tersebut akibatnya adalah petugas mengeluarkan tenaga ekstra untuk melayani jemaah yang sakit dan puncaknya pasca Armuna (setelah melaksanakan ritual haji) yang sangat melelahkan itu adalah beban pra Armuna ditambah beban pasca Armuna (double burden) dimana situasi yang penuh sesak dengan jemaah haji (crowded) karena sedang melakukan rukun dan wajib haji secara bersamaan. Mumpung priode tersebut masih sepekan lagi maka perlu direncanakan langkah-langkah preventif yang "ketat" dilandasi dengan sikap melayani dengan sepenuh hati dan tidak hanya simbolis belaka, mudah-mudahan angka kematian pada jemaah haji pada tahun ini akan bisa lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. (A.Hafiz Puskes Haji).