Mengapa Tenda Arafah dan Mina? (Bagian 2)

Fri, 13/10/2017 19:56:59   | Dilihat : 322   Penulis : SUPER ADMIN

Dari pengamatan beberapa tahun terakhir terlihat jumlah jemaah yang wafat sehari setelah arafah (masa aqobah) pada tahun ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal 6 tahun terakhir jumlahnya masih di bawah 20 orang, dan tidak terjadi musibah massal seperti pada tahun 2015.

Menurut laporan dari petugas kesehatan kloter bahwasanya kemah di Mina juga telah menampung jemaah melebihi kapasitas yang disyaratkan. Dari aspek kesehatan terlihat jemaah tidur bersusun seperti "ikan sarden" rebus, bahkan karena tidak tahan dengan "kondisi" seperti itu tidak sedikit jemaah yang mengambil nafar awal kembali ke mekah meski jatahnya di mina sampai nafar tsani dan bisa dibayangkan bagaimana kerugian yang ditimbulkan akibat "protes" tersebut. Selain itu di jelaskan pula panasnya udara didalam tenda, bagaimana pula kualitas sanitasi lingkungan di sekitar tenda jemaah, sampah, lalat dan sarana MCK? semuanya jauh dari standar kelayakan yang disyaratkan untuk keamanan dan kenyamanan jemaah dan semua masalah tersebut akan menjadi faktor risiko lingkungan dan predisposisi timbulnya penyakit yang memperberat penyakit yang memang sudah diderita jemaah haji.

Ternyata dengan bertambahnya jumlah jemaah tetapi tidak diimbangi dengan jumlah tenda maupun kualitasnya, telah menimbulkan masalah kesehatan bagi jemaah haji, hal ini dapat dilihat dengan tingginya angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) jemaah haji pada tahun ini, secara khusus kualitas pelayanan yang menjamin kenyamanan jemaah masih jauh dari harapan yang diharapkan. Nampaknya jumlah jemaah yang bertambah namun tidak disiapkan sarana prasarana yang memenuhi syarat kesehatan akan memperberat kondisi kesehatan jemaah haji yang akan mempengaruhi pelaksanan ritualitas ibadah jemaah apakah mereka sudah lengkap atau tidak lengkap rukun dan wajib hajinya.

Sehubungan dengan itu, data Jemaah yang wafat di Madinah pada tahun ini (yang suhunya juga ekstrem) jumlah jemaah yang wafat 126 orang dengan jantung 63, paru 14 dan lainnya 49; tahun 2016 wafat 62 orang dengan jantung 41, paru 11 dan lainnya 10; dan pada tahun 2015 wafat 72 orang dengan jantung 48, paru 21 lainnya 3. Ternyata menunjukkan peningkatan jemaah wafat 2 kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa masalah kesehatan haji akan memberikan dampak negatif pada ibadah jemaah dan masalah tersebut sebenarnya merupakan hasil akhir dari Resultante aktivitas yang dilakukan oleh manusia, jika sarana yang di sediakan oleh pemerintah untuk jemaah haji tidak layak seperti pemondokan / tenda jemaah baik di Arafah maupun Mina, transportasi yang tidak memberikan rasa aman dan nyaman baik udara, antar kota perhajian dan pondokan ke Masjidil Haram (bagi jemaah yang bertempat tinggal yang jauh) serta katering yang tidak memenuhi kebutuhan minimal energi jemaah dengan tidak melakukan kalkulasi dan antisipasi faktor risiko kesehatan jemaah yang ada pada sarana dan prasarana maka kementerian kesehatan akan memikul beban ganda (doubel burden) yaitu:

A. Secara internal Jemaah Haji Risti hampir 60% yang harus dikawal kesehatannya oleh petugas kesehatan kloter yang terdiri dari 2 perawat dan 1 dokter (produktifitas kinerjanya dari perhitungan ratio petugas ditemukan hanya 80%, padahal ratio produktifitas dengan angka kunjungan rata-rata perjemaah 2 kali ke pelayanan kesehatan di kloter harus lebih 100%, data sebelum tahun 2017) bagaimana dengan sekarang jumlah jemaah sudah lebih 200.000 dengan kunjungan di kloter sudah melebihi rata-rata 5 kali per jemaah dengan tidak adanya penambahan petugas kesehatan di kloter tentunya siapapun yang diberi tanggung jawab tidak akan sanggup melaksanakannya dengan baik.

B. Secara external lingkungan yang extrim di Arab Saudi dengan sarana dan prasarana yang belum sesuai standar kesehatan telah pula memperberat kondisi jemaah haji secara keseluruhan.

Bagaimana dengan pembinaan kesehatan apakah ada pengaruhnya? ternyata jika di korelasikan dengan angka kematian jemaah, secara statistik tidak menunjukkan adanya korelasi atau berdiri sendiri sendiri (p>0.005). Hal ini dapat dijelaskan karena jemaah haji hanya melaksanakan latihan kebugaran pada saat sosialisasi yang dilakukan Kemenkes saja tetapi setelah itu jemah haji tidak lagi melaksanakannya secara terprogram karena tidak adanya fasilitasi di daerah dengan demikian tentunya tidak akan memberikan dampak yang positif pada peningkatan kebugaran jemah haji sampai saat keberangkatannya ke tanah suci.

Memang kedepan pelaksanaannya perlu terus ditingkatkan intensitas dan frekuensi pelaksananya, tentunya dengan mengikuti petunjuk pelaksanaan yang sudah diterbitkan oleh kementerian kesehatan dan dukungan yang penuh dari kementerian agama agar jemaah haji yang berangkat benar-benar dalam kondisi istitaah kesehatan yang terukur disamping itu prasarana yang disediakan di Saudi terus di tingkatkan kualitasnya dalam rangka antisipasi lingkungan yang ekstrim. (AH)